HALIM-2014-REV-3-Rev-21-Jan-2014

Malala Yousafzai : Mereka Menembak Kepalaku Hanya Karena Aku Ingin Sekolah

Menuntut ilmu, perlu diperjuangkan kalau perlu sampai mati. Entahlah, apakah ungkapan itu tertanam begitu kuat di benak Malala Yousafzai, seorang gadis berusia 14 tahun asal Pakistan sehingga dia memiliki keberanian ini. Kawanan bersenjata Taliban Pakistan menembak Malala pada 9 Oktober 2012, selagi ia dalam perjalanan pulang dari sekolah di Lembah Swat, Pakistan Barat Laut. Gadis kecil pemberani ini mendapatkan luka tembak di bagian kepala dan lehernya. Gadis ini dikenal di dunia internasional karena berbicara lantang mendukung pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menentang kelompok militan yang menguasai kampung halamannya sejak tiga tahun silam. Syukurlah, setelah diterbangkan oleh  pesawat ambulans milik Uni Emirat Arab dan mendapatkan perawatan di RS. Queen Elizabeth di Birmingham Inggris, kondisi Malala kini  semakin membaik.

malala_-_dawn_afp

Putri dari Ziauddin Yousafzai yang dilahirkan pada  12 Juli 1997 ini adalah seorang siswi sekolah dan aktivis pendidikan dari desa Mingora, di distrik Swat di propinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dia dikenal karena perjuangannya dalam bidang pendidikan maupun hak-hak perempuan di Lembah Swat , dimana selama ini Taliban melarang anak-anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Di awal tahun 2009, ketika Malala berusia sekitar 11 atau 12 tahun, dia menulis sebuah blog dengan menggunakan nama samaran untuk BBC Urdu mengenai kisah hidupnya di bawah kekuasaan Taliban. Kelompok militan ini berupaya untuk mengontrol kawasan lembah dimana Malala tinggal maupun pandangan-pandangannya yang memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan. Sebuah tindakan luar biasa yang dilakukan oleh gadis kecil seusianya. Tak heran, gadis kecil brillian ini pernah dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan International Children’s Peace Prize oleh Desmond Tutu, selain memenangkan penghargaan pertama tokoh muda nasional Pakistan.  

13664021741603115817

Desa dimana Malala tinggal dikuasai oleh kelompok militan Taliban yang mengatasnamakan Islam  berniat ingin menerapkan pemahaman mereka mengenai “Syariat Islam” di kawasan tersebut. Salah satu upaya yang coba mereka terapkan adalah melarang anak-anak perempuan yang masih dalam usia pendidikan seperti Malala untuk bersekolah. Oleh karenanya, anak-anak perempuan mesti berjuang keras bahkan bertaruh nyawa untuk tetap bisa bersekolah karena hidup dalam situasi konflik dan peperangan. Aktivitas Malala sebagai pegiat hak pendidikan untuk perempuan, telah mengundang kemarahan kaum militan yang mengganggap pendidikan perempuan sebagai nilai-nilai budaya Barat.

perjuangan-gadis-pakistan-demi-pendidikan-meskipun-tertembak-di-kepala

Kasus penembakan Malala, telah membuka mata dunia bahwa masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami penderitaan yang serupa dengannya. Tak hanya anak-anak Pakistan, situasi yang serupa pun dialami di wilayah Afghanistan yang berada di bawah kekuasaan Taliban. Di negeri, anak-anak perempuan juga dilarang bersekolah. Mereka harus mempertaruhkan hidupnya untuk dapat bersekolah. Beberapa anak disiram air keras, diracuni air minumnya, atau menjadi target bom oleh mereka yang menganggap anak perempuan pantang bersekolah. Sebuah  kondisi yang sangat memprihatinkan.

Berdasarkan Laporan Koordinator PBB untuk Pakistan, Timo Pakkala, isu hak perempuan dalam pendidikan di Pakistan masih sangat krusial. Dalam laporan pendidikan UNESCO yang berjudul “Pendidikan Untuk Semua : Laporan Pengawasan Global 2012” masih terlihat ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. Untuk kelompok usia 15-24 tahun, misalnya, tingkat melek huruf di kalangan perempuan mencapai 61% sementara laki-laki pada 71%. Sementara perbandingan tingkat buta huruf perempuan dan laki-laki mencapai 64% dan 34% untuk kelompok usia yang sama. Jika dilihat dari anak yang keluar sekolah, dari 5,1 juta total anak Pakistan yang tidak melanjutkan sekolah maka jumlah anak perempuan mencapai 63% atau hampir dua pertiga.

201652_620

Tragedi yang menimpa Malala telah membuat semua orang menaruh respek kepadanya. Beragam aksi dilakukan oleh  masyarakat dari berbagai penjuru dunia untuk menghormati perjuangan Malala. Bahkan, dua badan PBB, UNESCO dan UNGEI -prakarsa PBB untuk pendidikan perempuan- menggelar pertemuan khusus  dalam rangka menegaskan komitmen untuk mencapai sasaran pembangunan pendidikan bagi perempuan di Pakistan. Sebelumnya,  dalam pertemuan Dewan Eksekutif UNESCO, Jumat 19 Oktober 2012, Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menggelar sesi khusus untuk menghormati Malala.

202682_620

“Di mana saja dan kapan saja seorang anak perempuan dilarang pergi ke sekolah, itu merupakan serangan terhadap semua perempuan, terhadap hak untuk belajar, hak untuk hidup secara utuh dan itu tidak bisa diterima,” tutur Bokova.

Menurut Angelina Jole, seorang aktris yang merupakan Duta badan PBB untuk pengungsi yaitu UNHCR, Malala bukan hanya seorang gadis remaja namun inspirasi bagi perdamaian dunia. Terinspirasi dari Malala, Jolie menggalang dana untuk mendukung aktivitas pendidikan perempuan di Pakistan dan Afghanistan. Mitra Pendidikan untuk Anak Daerah Konflik milik Jolie pun menyumbangkan USD 50 ribu atau Rp 500 juta dalam penggalangan awal tersebut.

Hero_Malala_QUOTE

3,412 total views, 2 views today

Komentar Anda

komentar

About Bintang Mars

Berdiri semenjak tahun 2003. Tetap bertahan sampai saat ini berkat kepercayaan para customer setia kami. Berusaha memberikan yang terbaik,melayani dengan hati. Karena kami yakin bahwa kepuasan anda adalah masa depan kami.

banner bawah bm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top